Perkawinan dan Keluarga

A. INTRODUCE

  1. 1. Latar belakang

Puji syukur alhamdulillah kami ucapkan kehadirat Allah SWT yang atas rahmat dan ridho-Nya kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul “ PERKAWINAN DAN KELUARGA”tepat pada waktunya. Makalah ini di susun sebagai persyaratan tugas mata kuliah PENGANTAR SOSIOLOGI DAN ANTROPOLOG.

Pentingnya mengetahui dan mempelajari pengertian perkawinan dan keluarga adalah supaya kita dapat mengetahui secara lebih dalam arti pentingnya perkawinan karena semakin banyaknya orang yang tidak mengetahui tentang esensi sebuah perkawinan dalam keluarga. Maka dari itu makalah ini kami buat agar kita mengetahui lebih dalam esensi dari srbuah perkawinan dalam keluarga.

Isi global topik makalah ini antara lain pengertian perkawinan yakni Perkawinan adalah suatu hubungan yang paling penting dari semua hubungan antara manusia. Ia juga diberikan nama sebagai suatu ujian yang paling berat mengenai pemyesuaian diri seorang. Tidak seorangpun seharusnya memasuki jenjang perkawinan tanpa mempertimbangkan banyak hal yang turut serta bersama perkawinan itu. Pengertian keluarga adalah kelompok pertama tempat anak-anak melakukan kontak. Dalam keluargalah senyum pertama diperlihatkan. Anak itu mengenal ibunya, dan tersenyum yang tidak dapat dilakukan oleh hewan manapun juga. Didalam keluargalah kesadaran kemanusian si anak terbentuk. Anggota keluarga lainnya seperti ayah, ibu, abang, kakak, teman, tetangga, kakek dan nenek dan sebagainya kesemuanya di temukan atas dasar keluarga.

  1. 2. Tujuan Pembahasan
  1. Agar mahasiswa mampu memahami pengertian perkawinan.
  2. Untuk mengetahui pengertian keluarga
  3. Supaya mahasiswa dapat mengetahui macam-macam perkawinan dalam keluarga 

3. Rumusan Masalah

  1. Apakah pengertian perkawinan?
  2. Apakah pengertian keluarga?
  3. Apakah macam-macam perkawinan dalam keluarga?

B.  Perkawinan dan Keluarga

1. Pengertian Perkawinan

Perkawinan adalah suatu hubungan yang paling penting dari semuahubunga antara manusia. Ia juga diberikan nama sebagai suatu ujian yang paling berat mengenai penyesuaian diri seorang[1]. Tidak seorangpun seharusnya memasuki jenjang perkawinan tanpa mempertimbangkan banyak hal yang turut serta bersama perkawinan itu. Laki-laki dan perempuan yang beklum siap untuk mengerti atau menghadapi tantangan dalam kehidupan perkawinan sebaiknya tidak memasuki jenjang perkawinan itu karena mereka akan sangat kecewa nantinya. Suatu rumah tangga yang berantakan bukanlah tempat yang baik untuk membesarkan anak.

Istilah “perkawinan” berkenaan dengan sesuatu ikatan antara laki-laki dan perempuan yang tidak akan berhenti sampai melahirkan anak saja, akan tetapi akan tetap berlanjut terus setelah si anak lahir sampai anak itu sanggup mencari penghidupannya sendiri dan memenuhi kebutuhannya.[2]

Bagardus mendefinisikan perkawinan sebagaisuatu institusi lembaga yang mengizinka laki-laki dan wanita untuk menjalani kehidupan berkeluarga. Yaitu, kehidupan dalam bentuk hubungan intim antara seorang suami dan istrinya dengan tujuan utama adalah untuk memperoleh dan membesarkan anak.

Menurut undang-undang pilipina “perkawinan bukanlah hanya sebuah kontrak saja tetapi sebuah lembaga social yang tidak boleh dilanggar”. Sifatnya, akibatnyadan peristiwanya atau kejadiannya diatur oleh hokum dan ia tidak tunduk pada syarat apapun kecuali pada perjanjiaatau penyelesaian perkawinandapat sampai sejauh tertentu menentukan hubungan harta bendaselam perkawinan.

Perkawinan adalah lembaga alami, dan ia juga merupakan lembaga hokum yang positif dari Tuhan. Perkawinan itu alami, maka memang alami bila seorang itu cenderung untuk melakukannya, dan bangsa manusia ini akan lenyap tanpa adanya perkawinan itu. Perkawinan mempunyai tujuan yang jauh lebih besar lagi, bukan hanya untuk melanjutkan keturunan suatu bangsa saja. Memeng, anak dapat melahirkan di luar perkawinan, tetapi tanpa adanya lembaga perkawinan yang stabil dan keluarga dan keluarga yang dihasilkanya, maka anak-anak tidak dapat di besarkan secara wajar dan dididik, anak-anak tidak dapat diberikan kesempatan-kesempatan yang penuh dalam hal perkembangan fisik, mental dan spiritual tanpa kehadiran suatu keluarga yang si sahka oleh perkawinan, yang telah ditetepkan alam. Karena, bila memperoleh anak adalah hanya tujuan utama suatau perkawinan, maka memperoleh anak itu berarti lebih dari pada hanya sekedar melahirkannyaberada pada alam dunia ini dan membuatnya matang dengan cara yang sejalan dengan syarat-syarat hak, akal, dan kecenderungan manusia yang normal.

1.Bentuk-bentuk Perkawinan

Bentuk organisasi perkawinan dan keluarga yang terdapat diantara bangsa yang primitive ada tiga macam, yaitu: monogami, poligini, dan poliandri. Dari yang tiga ini, monogami, atau penyatuan seorang laki-laki dengan seorang perempuan untuk jangka waktu tertentu, telah menjadi tipe perkawinan yang tetap berlangsung. Di antara orng-orang primitive alas an untuk terus hidupnya monogami lebih berdasarkan pada sifat biologis dari pada sifat psikologis.

Poligini dan poliandri termasuk dalam jenis perkawinan yang disebut poligani, poligani adalah keadaan perkawinan atau kebiasaan mempunyai lebih dari satu suami atau istri yang saat bersama. Poligini adalah bentuk perkawinan dimana seorang kaki-laki mempunyai dua atau lebih istri pada waktu yang bersamaan. Sebab-sebab terjadinya poligini dapat berdasarkan keadaan status ekonomi dan status social,karena hal tersebut akan meletakka diatas status yang beristri.[3]

Namun, poligami itu tidak mempunyai dasar kebenaran yang praktis pada hari tua. Keadaan itu akan cenderung memahitkan kehidupan perempuan, dan tidak konsisten dengan tipe hubungan pribadi yang lebih baik antara anggota keluaraga yang pentinga bagi nilai-nilai social dari lembaga tersebut.

Bentuk perkawinan yang ketiga yang terdapat di kalangan bangsa-bangsa yang premitif adalah poliandri, atau penyatuan seoranga perempuan dengan lebih dari suatu suami. Diantara penyebabnya yang utama adalah jumlah banyaknya laki-laki dengan perempuan yang tidak seimbang. Dibeberapa daerah yang berpadang pasir subur kelahirannya bagi laki-laki jauh melebihi kelahiran banyi perempuan.

Pada saat ini hampir semua Negara, khususnya dimana agama Kristen sudah tersebar dan bahkan di Negara-negara yang bukan Kristen, perkawinan monogamy telah di praktekan.

Di Pilipina bentuk perkawinan yang diterima adalah bentuk yang monogami. Hal in yang tersebar paling luas di dunia. Banyak keuntunan yang dapat dipunyai bentuk perkawinan ini disbandingkan dengan bentuk poliandri. Keuntungan-keuntungan itu adalah:

  1. Monogamy menjamin pemeliharaan anak yang lebih baik. Didlam perkawinan yang seperti inilah ayah dan ibu bersatu dalam usahanya untuk membesarkan anak-anak mereka, lebih besar lagi perhatian yang dapat diberikan pada pendidikan anak oleh kedua orang tua itu dalam suatauperkawinan monogamy dari pada dalam bentuk perkawinan  lainnya.
  2. Keluarga monogamy saja yang dapat menghasilkan jenis cintakasih yang paling tinggi, cinta yang tidak mementingkan diri sendiri dan pendambaan yang penuh toleransi. Dalam perkawinan poligami si ayah tidak memperlihatkan kasih sayangnya pada madding-masing anaknya secara penuh, atau mengajar istrinya yang banyak itu karena jaumlah kesemuaannya itu terlampau besar. Dalam perkawinan monogamy, sebaliknya. Baik si ayah maupun si Ibu sama-sama banyak berkorban dalam saling pada pendidikan anak-anak.
  3. Monogamy membentuk ikatan keluarga yang lebih erat dari pada bentuk perkawinan maupun juga. Cintakasih antara orang tua, antara tua dan anak, dan antara anak-anak itu sendiri, tumbuh dengan sehat. Hubungan sah dan hubungan darah lebih mudah, lebih tuidak ruwet, dan tidak kecil kemungkinan untuk terjadinya percekcokan yang permanen.
  4. Monogamy menyokong bukan saja terpeliharanya kehidupan anak-anak tetpi juga kehidupan kedua orang tua meraka. Dalam monogamy orang tua yang sudah tua sampai waktu tertentu akan dipelihara oleh anak-anaknya.

2.sebab-sebab kegagalan perkawinan

Perkawinan modern menghentikan kematangan emosional yang lebih besar, setidak-tidaknya dalam bentuk perkembangannya, dari pada hubungan –hubungan lain untuk menghindarkan perkawinan yang telah porak poranda oleh perceraian untuk laju yang belum terjadi sebelumnya. Sudah wujudnya bagi orang-orang dan mereka yang belasan tahun untuk mengetaui sebab-sebab maslah social yang buruk itu.

Menurut ahli statistic, dari semua perkawinan dibawah umur setengahnya akan berakhir dengan perceraian atau perpisahan sebelum mereka berumur duapuluh lima tahun. Suami istri menyatakan alasan-alasan mengenai suramnya masa depan perkawinan dikalangan belasan tahun itu sebagai berikut: [4]

  1. Orang-orang dibawah usia dua puluh tahun masih menalami pergeseran yang bersifat biologis maupun psikologis, sejalan dengan perubahan tubuhnya dan penyesuaian pribadinya pada kehidupan dewasa, maka kebutuhannya juga berubah dan bergeser. Apa yang dahulunya tertarik baginya dalam diri seorang anak laki-laki dan perempuan mungkin saja tidak dikehendakinya atau dibutuhkanya dalam diri seorang istri ataupun suami ketika mereka mencapai umur akhir dua puluhan.
  2. Pada masa belasan tahun, laki-laki atau perempuan selalu saja berusaha untuk menemukan siapa benar laki-laki itu atau permpuan itu. Karena itulah mereka belumlah siap untuk membuat perjanjian cinta jangka panjang. Bila merek sendiri belum mengetahui siapa sebenarnya mereka sendiri bagaimana ia akan mengetahui siapa sebenarnya orang pasangannya.
  3. Perkawinan adalah hubungan jenis dewasa, kerena itu kematangan emosional merupakan syarat mutlak. Seorang anak-anak laki-laki ataupun seorang perempuan secara intelektual mengkin saja telah sanggup mencari uang tetapi secara emosional belum matang untuk memenuhi tuntutan hubungan keluarga.

Pengadilan anak-anak nakal, mempunyai catatan hampir 1000 orang yang memasukkan permohonan pembatalan perkawinan atau permohonan pemisahan legal yang diizinkan atau tidak. Awbab utama perkawinan yang berantakan ini adalah perkawinan yang terlampau dini.

Ada persetujuan tampaknya tentang factor-faktor yang berikut ini yang ikut menyumbang pada kegagalan yang tinggi dalam perkawinan dikalngan anak belasan tahun. Factor-faktor tersebut adala; perkawinan yang terlampau dini, sumberkeuangan yang tidak mencukupi, perkawinan yang didasarkan oleh tarik fisik dan romantic, hamil sebelum kawin, kawin karena menghindari masalah, pasangan masih belum mengenal dengan baik, dan tidak adanya saling perhatian dalam hal tanggung jawab perkawinan.

  1. Perkawinan yang dini. Parnell, menyebutkan bahwa dari sesuatu survai yang meliputi seluruh anggota ditemukan bahwa orang laiki-laki yang mempunyai kemungkinan paling kecil untuk bercerai adalh mereka yang kawin antara umur 25 sampai 30 tahun dan lulusan perguruan tinggi serta mepunyai penghasilan yang cukup.

Armstrong berkata telah tebukti bahwa perceraian terjadi enam kali lebih sering antara mereka yang kawin dibawah 20tahun dari pada pasangan penganten yang berumur 21 tahun lebih.

  1. Sumber keuangan yang tidak memadai. Parnll percaya bahwa sepasang muda-mudi menunggu sampai mereka berumur setidak-tidaknya dua puluh lima tahun untuk menikah, oleh sumberkeuangan yang memadai. Anak belasan tahun biasanya kawin demi cinta begitu kata mereka, tetapi pada umumnya hal tersebut bukan cinta melainkan cinta monyet.
  2. Perkawinan yang didasarkan daya tarik fisik dan romantika. Dalamperkwian yang berhasil mannapu, baik daya tarik fisik maupun romantika itu perlu, tetapi daya tarik seks itu tidak cukup kalau hanya itu saja yang di andalkan. Hal tersebut tidak akan memenuhi konsep cinta dalam arti yang sebenarnya.

Perkawinan yang disarkan pada daya tarik seks saja adalah perkawinan dengan fundasi yang lemah. Pasangan tersebut harus mempunyai rasa hormat yang daladan selalu memikirkan teman pasanganya.lagi pula kenyataan perkawinan harus dihadapi yaitu dua manusia yang mempunyai kebutuhan masing-masing, serta perbedaan-perbedaan yang khas kemudian hidup bersatu.

  1. Terjadinya kehamilan sebelum pernikahan. Factor yang utama lainnya yang menyebabkan perkawinan anak belasan tahun adalah bahwa 40 dari perkawianan ini terpaksa dilakukan karena “kecelakaan” yaitu telah hamilnya si wanita sebelum kawin. Namun, para yang berwenang lain mengatakan perceraian atau tingkat perpisahan secara legal adalah factor yang palinga banyak menjadi penyebab berantakan perkawinan dibawah umur ini.

Hamilnya si wanita sebelum pekawinan merupakan krisis utama. Selain dari tekanan-tekanan yang dialami wanita tersebut selama hamil ada hal lain, yaitu, prasan malu yang dialami keluarga dan teman dekat. Walaupun adanya pandangan libral dikalangan anak-anak mudda kini tentang hungan intim dari hubungan mereka, namun pendapat umum masih saja tidak menyukai hubungan intim sebelum pernikahan apalagi si wanita kalau hamil pula. Akibat dari hamilnya si wanita sebelum pernikahan itu tidaklah akan banyak menolong keberhasilan perkawinan mereka.

Bila pasangan yang sudah lama berpacaran melakukan hubungan seks, maka mereka berdua menyadari bahwa kemungkinanya ada bahwa masing-masing mereka juga telah melakukannya dengan teman kencan mereka sebelumnya, dada kemungkinan pula akan melakukannya dengan orang lain sesudah perkawinan mereka.

  1. Perkawinan karena lari dari suatu masalah.

Banyak anak belasan tahun terjun dalam perkawinan untuk menghindari suasana keluarga dirumah yang tidak bahagia atau untuk memecahkan masalahnya sendiri.

Perkawinan bukan hanya untuk memecahkan masalah seseoarang. Perkawinan bisa saja memperbesar masalah yang sedang dihadapi atau menambah masalah lagi dengan masalah yang dihadapi mereka. Hal ini akan sungguh berbahaya bila persoalan pribadi atau persoalan yang menyangkut emosi dilibatkan dalam perkawinan. Karna perkawinan yang paling berhasilpun melibatka sesuatu masa penyesuaian, apalagi perkawinan dua mahluk yang belum matang dan mempunyai masalah yang besar.

  1. Masing-masing anggota belum saling mengenal.

Banyak pasangan saling mengenal, sebelum perkawinan dilakukan. Suatua pasangan sebaiknya dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan dibawah ini:

Apakah kami mempunyai latarbelakang pendidkan yang sama?

Apakah kami secara mental relative sama?

Apakah kami mempunyai pandangan atau nilai yang sama?

Apakah kami mempunyai agama yang sama, kenyakinan yang sama, aspirasi dan tujuan yang sama?

Apakah kami sama-sama menghendaki anak?

Apakah kami mempunyai kecocokan tentang bagaimana uang dibelanjakan?

Apakah kami bisa jujur dan berterus terang terhadap satu dengan yang lain?

Apakah kami dalam keadaan sehat bener?

Apakah kami secara emosional mantap?

Apakah latarbelakang kami dapat dicocokkan?

Jawaban dari semua pertanyaan itu hanya didapati melalui pola berkencan secara   efektif. Dan hal ini memakan waktu yang lama, pemikiran dan tata tertip berpacaran yang wajar.

  1. Kurangnya pengertian mengenai tanggunga jawab perkawinan menuntut suatu tanggung jawab dan cerita yang matang.

Semua anak belasan tahun yang berniat kawin harus mempertimbangkan bahwa perkawinan tidak sama dengan pertungan atau berpacaran, perkawinan membawa serta tanggung jawab yang cukup besar yaitu menyediakan rumah tempat tinggal, membanyar utang, membesarkan anak, memlihara anak, mengatur rumah tangga, menghadapi penyakit dan kemunduran dalam hal apa saja.

Setiap pasangan yan merencanakan perkawinan harus menghadapi kenyataan-kenyataan ini dan bertanya pada diri sendiri: apakah sudah siap menghadapi tanggung jawab yang sedemikian? Bila jawabannya tidak, maka tundalah perkawinan itu agar dapat menyiapkan diri baik secara mental maupun financial dan lakukan hal-hal lain yang perlu memenuhi tuntutan pekawinan yang berhasil.

Tidak seorangpun ingin menikah agar ia menjadi tidak bahagia. Tak seorangpun hidp dengan putus asa. Kita kawin karena kitta membayangkan suatau kebahagian dan kepuasan yang lebih besar.

Perbedaan karena ukuran badan yang besar. Mayarakat biasanya mengharapkan bahwa sang suami lebih tinggi dari istrinya.

Masalah yang lebih serius adalah rekreasi seorang laki-laki terhadap ukurannya sendiri. Laki-laki yang kecil biasanaya ingin menguasai dan egaois mengkonfensasi kekurangan. Tetapi dalam kasus lainnya laki-laki kecil jadi penurut, takbersemangat dan tunduk pada istrinya.

Perbedaan dalam hal kebangsaan. Perbedaan ini melibatkan perbedaan dalam kekuasaan, penbakuan sikap dan pandangan hidup. Semakin besar kontras latar belakang pasangan itu. Semakin besar kemungkinan adanya masalah-masalah dalam penyesuaian. Salah satu perbedaan yang paling erat hubungannya dengan hal ini antara Negara mana saja dengan Negara yang lainnya sejauh mengenai hal perkawinan adalah ketidaksamaan terhadap wanita, terhadap statusnya, da terhadap sberapa jauh pembatasan yang dilakukan oleh adat terhadap tingkahlakunya.

Perbedaan ras. Halangannya yang terbesar dalam perkawinan campuran ras terletak pada adat kebiasaan, yaitu tatacara yang telah dimapankan dalam kelompok, bersama-sama dengan sikap dan prasangka-prasangka yang dapat menimbulkan masalah yang dihadapi anak nanti kerena kehiduapan bagi anak-anak keturunan tidaklah selalu licin.

Perbedaan latar belakang keluarga. Factor lingkungan sangat berpengaruh terhadap seorang dan pengalaman keluarganya akan dibawanya kedalam perkawinan. Pada perbedaan dalam latarbelakang berarti perbedaan dalam citarasa, sikap, tingkah laku social, dan banyak lagi yang setiapnya akan mempengaruhi hubungan dalam perkawinan. Alasan lain untuk mempertimbangkan latarbelakang ini ialah bahwa, apakah kita menghendakinya atau tidak, perkawinan itu membawa serta suatu perangkat ipar dan mertua bagi pasangan tersebut. Bila ipar dan mertua ini dating dan bertemu kerumah, maka ada saja yang mereka tuntut, dan dalam banyak hal akan berusaha agar anak mereka tetap ikut pola hidup mereka, walaupun anak itu telah menyinapang dari hal tersebut.

Perbedaan kecerdasan. Suami atau istri yang cerdas, bila ia cakup cerdas untuk merasakan situasi yang sebenarnya, dapat mengembangkan perasan rendah diri. Bila ia tidak begitu cerdas ia membuata kesukaran itu tambah menjadi dengan kebutaannya terhadap situasi dengan sikap yang apatis. Perasaan rendah diri dapat mnyebabkan ketidak bahasiaan, rasa tidak ama dan prustasi.

MASALAH-MASALAH KHUSUS PERKAWINAN CAMPURAN

Dalam keadaan hidup manapun juga akan selalu terdapat masalah, mak dalam perkawinan campuran masalah itu lebih jelas lagi. Menurut Bowman masalah kasus itu adalah:

  1. ANTARA SUAMI DAN ISTRI
  1. Identifikasi yang berbeda. Selain dari nilai-nilai yang bertentangan dan unsur-unsur lainnya, maka suatu perkawinan campuran adalah “sebuah ruamh” yang terbagi melawan dirinya sendiri. Oarng-orang yang berlatang belakang yang sangat berlawanan mau tidak mau memyadari akan adanya lebih sedikit kesamaan asumsi, lebih sedikit menganut nilai-nilai yang sama, dan lebih sedikit kebiasaan-kebiasaan yang sama.
  2. Partisipasi yang berbeda. Masing-masing biasanya ikut serta dalam kelompoknya sendiri dan partisipasi yang berlanjut terus itu membuat kedua mahkluk yang disatukan oleh perkawinan itu kehilan suatu pengikat. Dalam keadan yang paling buruk hal ini akan menyebabkan sesuatu konflik yang terbuka; dimana orang-orang pergi kegereja bersama, maka mereka yang nerbeda agama berpisah, ppergi kegereja masng-masing.
  1. Antara anak dan orang tua

Bila anak-anak telah lahir, dikelompok mana kereka akan dibesarkan? Hal inilah yang merupakan maslah yang paling sukar dan paling tersebar yang dapat dalam perkawinan campuran. Lahirnya anak-anak akan menambahkan masalah lagi pada pekawinan ini;

PERKAWINAN RASIA

Ada perbedaan antara upacara perkawinan yang rahasia dengan perkawinan tidak rahasia. Perkawinan rahasia tidak menguntungkan terutama bagi siwanita. Ada kasus dimana pasangan tersebut tidak pernah hidup bersama sampai si laki-laki mengawini perempuan lain dan siwanita telah kehilangan kesempatan untuk mendapat seorang laki-laki yang lebih baik.

Upacara perkawinan yang dirahasiakan misalnya terjadi pada kawin lari dan fakta kawin ini diumumkan sesudah terjadinya upacara resminya. Dalam hal perkawinan rahasia, perkawinan itu dirahasiakan untuk suatu jangka waktu yang panjang dan baik upacararesmi perkawinan itu maupun hubungan antara kedua mahkluk iu diumumkan.

Kerahasiaan ini meniadakan persiapan untuk menikahkan persiapan-persiapn itu walaupun sangat melelahkan dan menghabiskan waktu namun merupakan sesuatu yang member kepuasan dan kenangan manis. Kasang-kadang ada sesuatu yang mencurigakan mengenai perkawinan yang dirahasiakan atau upacara perkawinan yang di rahasiakn itu. Bila akhirnya perkawinan itu diumumkan dengan orang akan bertanya-tanya tentang alas an merahasiakan perkawinan itu.

Rahasia yang paling naikpun kadang-kadang akan bocor dan rencana yang diatur dengan baik sekali mungkin saja berakhir dengan kegagalan. Bila upacara maupun kehidupan perkawinan itu dirahasiakan maka pasangan tersebut akan memgalami kesukaran untuk hidup sendiri ataupun sebagai pasangan.

Bila perkawinan itu dirahasiakan dan kemudian si wanita hamil maka penjelasan akan sungkar untuk diberikan. Teman dan anggota keluarga lainya mungkin saja tidak peduli bahwa mereka menikah sebelum bayi itu dikandung. Seorang biasanya tidak tahu membawa surat nikahnya kemana-mana untuk dapat memperlihatkan pada temam-temannya bila saja mereka mulai meraguka perkawianan mereka itu.

Perkawianan yang dirahasiakan mempunyai tujuan yang preventif. Mereka yang melakukan perkawinan yang rahasia itu akan dengan hati-hatisekali mempertimbangkan baik buruknya dan tidak akan melakukannya selain hal tersebut adalah satu-satunya jalan keluar dan satu-satunya cara untuk mendaptkan kebahagiaan melalui nasa depan yang panjang.

Perkawinan merupakan suatu ikatan. Tetapilah bukan hanya ikatan kerena undang-undang menganggapnya sebagai suatu lembaga social yang harus dihormati. Masing-masing anggota pasangan bebas untuk membuat syarat atau ketentuan-ketentuan apa yang diindinkannya dalam ikaatan perkawinan itu, tetapi hanya terbatas.

Upacara perkawinan tidak dapat dilangsungkan sebelum hal-hal yang berikut dipenuhi:

  1. Kesanggupan yang sah dari masing-masing yang membuat ikatan.
  2. Persetujuan masing-masing yang diberikan secara bebas tanpa paksa.
  3. Kewenangan dari oaring yang mengesahkan perkawinan itu.
  4. Suatu surat ijin nikah, kecuali bila perkawinan bersifatkan jhal yang lain dari yang lain.

2.Keluarga

Pengertian keluarga adalah kelompok pertama tempat anak-anak melakukan kontak. Dalam keluargalah senyum pertama diperlihatkan. Anak itu mengenal ibunya, dan tersenyum yang tidak dapat dilakukan oleh hewan manapun juga. Didalam keluargalah kesadaran kemanusiaa si anak terbentuk. Anggota keluarga lainnya seperti ayah, ibu, abang, kakak, teman, tetangga, kakek dan nenek dan sebagainya kesemuanya di temukan atas dasar keluarga.[5]

Keluarga yang merupakan lembaga yang paling tua serta yang paling universal merupakan lemnaga yang social dasar dalam sebagian besar masyarakat dan di bina serta dilindungi oleh Negara. Ia merupakan kelompok utama yang di bentuk melalui upoacara perkawinan antara seoarang laki-laki dengan seorang perempuan, yang kemudiannya menghasilkan lahirnya suatu anak atau lebih. Anak-anak ini berdasarkan untuk menjadi anggota masyarakat yang terhormat.

KELUARGA PILIPINA

Walaupun banyak masyarakat kehidupan keluarga itu memburuk demikian cepatnya karena keseluruhan cara hidup kebudayaan modern telah sangat berubah, pada umumnya keluarga Pilipino  tetap saja monogamy. Seperti saja keluarga-keluarga biasa diseluh dunia keluarga Filipino memainkan peranan unik untuk anak karena keluarga itu memberi si anak kasih sayang, perhatian, perlindungan, asuhan dan melahirkan dalam diri si anak perasaan bersatu dengan lain-lainnya atau perasaan keamanan.

Keluarga Filipino merupakan sebuah lembaga yang melindungi anggotanya dari keadaan darurat dalam kehidupan. Anggota keluarga akan cenderung saling membantu, menolong mereka yang tidakmempunyai pekerjaan atau membantu mereka cacat dan memelihara mereka yang sudah tua. Keluarga Filipino didirikan atas dasar cinta dan kasih sayang, dan di sucikan berdasarkan perkawinan Kristen mempunyai sikap yang kohesif.

1.Hak dan kewajiban keluarga

Ayah adalah kepala keluarga dan pencari nafkah, sedangkan si ibu adalah bendaharawannya serta pengurus rumah tangga. Orang tua mempunyai tugas-tugas dan tanggung jawab yang sudah tertentu dan masing-masing menghormati serta mendukung fungsi-fungsi yang lainnya. Oaring tua yang paling miskinpun bekerja keras untuk menciptakan mobilitas social. Mereka mengharapkan agar anak-anak meraka akan bernasip lebih baik dari pada mereka sendiri. Mereka sangat memikirkan status social, oleh sebab itu mereka berjuang mati-matian untuk dapat melengkapi anak-anak mereka dengan pendidikan yang terbaik yang dapat mereka biayai. [6]

Ayah merupakan pimpinan atau kepala dan otoritasnya dan di hormati. Ia menentukan atura-aturan untuk semua anggota keluarga yang harus di patuhi guna menjaga ketertiban, disiplin,dan harmoni. Hak seoarang ayah untuk mengatur keluarganya memberi dia kewajiban untuk menghidupi keluarganya serta menyiapkan kebutuhan-kebutuhannya. Ia harus mempunyai pekerjaan untuk itu. Kedua orang tua ertanggung jawab dalam hal membesarkan anaknya.

Kalau ayah menjadi pimpinan maka ibu adalh jantungnya. Namun, bila ayah sedang tidak dirumah, maka ibiulah yang memerintahkan dirumah. Dialah pemersatu melalui pengaturan rumahtangga dan mengarahkan kehidupan masing-masing anggotanya. Selain dari itu ia menjaga bahwa gari-garis besar keluarga dan keputusan-keputusan di ikuti dan di patuhi; ia juga melancarkan tindakan-tindakan disiplin bilamana pelu. Karena itu, seorang ibu bukan saja merupakan seorang pengurus rumahtangga, seoarang bendaharawan, tetapi seorang pengarah dan pejabat ekskutif.

Tanggungjawab seorang istri, bagaimanapun juga, adalah menjaga keselamatan anak-anak dan mengurus persoalan rumah tangga. Jika keluarga tidak mempunyai seorang pembantu, dan si ibu tersebut tidak mempunyai pekerjaan, maka si ibu itu sangat sibuk dengan pekerjaan rumahtangganya.

Sebagai seorang bendaharawan, si ibu mengatur pengeluaran keluarga. Ia akan menjaga agar pengeluaran tidak melebihi pemasukan keluarga.

Dalam undang-undang sipil memberi hak seorang istri untuk memiliki semua perhiasan dan harta benda yang dibawahnya ketika kawin dan si suami tidak dapt menggadainya tanpa se izin si istrinya.dan undang-undang ini juga memberi hak pada istri untk mengurus harta-harta tersebut.

2.fungsi-fungsi keluarga

Tugas-tugas sebuah keluarga yang secara ringkas telah di jelaskan oleh kordero dan ponopio dapat di terap pada keluarga. [7] Tugas-tugas itu adalah tugas untuk memproduksi, pemeliharaan secara biologis, sosialisi, kontrolsial,  penempatan status, fungsi bersifat ekonomi, agama, pendidkan, rekreasi, dan politik. Maka keluarga melakukan tersebut:

  1. keluarga yang mengatur tingkah laku seks dan merupakan pula unit untuk produksi. Dalam ikatan perkawinan, pernyataan seks diakui oleh masyarakat.
  2. Hal ini dimaksud untuk kepuasan dan reproduksi. Dalam keluarga, praktek-praktek seks diatur dan di control.
  3. keluarga melaksanakan fungsi untuk pemeliharan biologis. Orang tua memperhatikan kebutuhan fisik dan material si anak, memberinya makanan, gizi, dan perlindungan.
  4. keluarga merupakan badan utama untuk mensosiolisasikan si anak. Di dalam hubungan intim dalam keluargalah si anak tadi mengembangkan kepribadiannaya dan memperoleh dasar-dasar untuk membedakan mana yang  benar dan mana yang salah.
  5. keluarga memberikan status pada keluarganya.

Keluarga tempat kita di lahirkan telah memperoleh suatu posisi social dalam mayarakat berdasarkan mutu tingkahlaku yang diperhatikan oleh anggota-anggotanya dan sejauh mereka telah ikut mengambil bagian dalam aktivitas dan urusan-urusan masyarakat.

  1. keluarga merupakan mekanisme penting untuk control social. Keluarga melancarkan tekanan untuk membuat para anggotanya menyesuaikan dari pada standar-standar dan norma-norma tingkah laku. Keluarga mengatur hubungan social serta pengalaman-pengalaman anak-anak. Keluarga berusaha menempatkan keluarganya dalam batas-batas berbagai aspek cara hidup untuk menjaga nama baik.
    1. 3. Macam-macam Perkawinan dalam Keluarga

a. perkawinan campuran

Istilah “perkawinan campuran” berkenaan perkawinan dimana suami dan istri berbeda dalam hal: umur, agama, besar badan, kebangsan, laarbelakang keluarga, kecerdasan dan kependidikan.

Walaupun adanya tekanan pada homogeni, perkawinan campuran tetap terjadi. Dalam prkawinan campuran, keberhasilan ataupun kegagalan tergantung pada penyesuaian total. Misalnya, suatu perkawinan katolik-protestan, keberhasilan ataupun kegagalannya tergantung pada perbedaan agama tesebut tetapi juga terhadap agama si suami: juga tergantung pada mutu kepribadian meeka masing-masing, juga pada sejumlah faktor lain seperti uang, ipar besan, yang membentuk keseluruahan itu, perkawinan campuran, mau tidak mau, menciptakan masalah sendiri bagi si isri maupun si suami.

Jenis-jenis perkawinan campuran itu telah ditetapkan oleh Bowman sebagai berikut:

  1. Perbedaan umur. Bila perbedaan umur sangat besar maka perkawinan itu dianggap perkawinan campuran, tetapi kedua mahluk telaha matang untuk perkawinan. Bebrapa sebab jadi perkawinan campuran antara lain:
  2. Keinginan untuk mendapatkan kemantapan dalam hal keuangan, untuk mendapatkan harta pusaka, posisi sosial da prestise; kepuasan telah dapat menaklukan seseorang, rasa kasiaan, rasa terima kasih juga menjadi motivasi kepribadian seseorang yang masih muda.
  3. Masing-masing telah telah gagal dalam mencari pasangan yang sesuai dengan umur masing-masing. Seorang wanita muda merasa dirinya tersanjung oleh perhatian yang diberikan seseorang yang lebih tua dari padanya karena si laki-laki ia beranggapan lebih tahu tentang wanita yang di anggapnya mudah ditaklukannya.[8]
  4. Masing-masing mempunayai motivasi ingin mendominasi yang muda memperoleh motivasi ini karena rasa terima kasih yang diperlihatkan yang lebih tua karena ia telah mendapatkan pasangan yang sangat muda, sedangkan yang lebih tua memperoleh motivasi ini karena menganggapnya dirinya lebih tua dan lebih berpengalaman.

Beberapa masalah yang disebabkan oleh perbedaan umur yang sangat besa  yang mungkin dihadapi pasangan tersebut adalah:

  1. Adanya kemungkinan dala perbedaan
  2. Suami yang lebih muda dari istrinay akan mengalami penyesuaian diri yang cukup besar pada saat istrinya mengalami menopause (berhenti haid)
  3. Suami yang tua dari istrinya akan mengambil sikap kebapaan terhadap istrinya
  4. Ada masalah dalam hal teman sejabat yang bisa mempunyai bersama.
  5. Ada kebutuhan akan adanya sikap yang seimbang dan cerdas terhadap perkawinan mereka.

Perbedaan karena ukuran badan yang besar. Mayarakat biasanya mengharapkan bahwa sang suami lebih tinggi dari istrinya.

Masalah yang lebih serius adalah rekreasi seorang laki-laki terhadap ukurannya sendiri. Laki-laki yang kecil biasanaya ingin menguasai dan egaois mengkonfensasi kekurangan. Tetapi dalam kasus lainnya laki-laki kecil jadi penurut, takbersemangat dan tunduk pada istrinya.

b. perkawinan antar agama

Walaupun pilipina merupan agama katholik, perkawinan antar agama terjadi juga.

Perbedaan dalam keyakinan beragama merupan halangan terhadap hubungan pribadi bila masing-masing agama menganggap agamanyalah yang benar. Dalam keadaan yang demikian, maka mdalam suatu perkawinan itu tidak akan mempunyai rasa bersatu secara spiritual tetapi juga tidak mempunyai rasa hormat terhadap keyakinan pasangannya hal ini akan menimbulkan ketegangan dalam perkawinan antara seorang katholik yang baik dengan seorang protesten yang baik cenderung akan mengalami ketegangan ini. Mareka akan terpisah selama masing-masing aktif digejalanya yang seharusnya waktu itu dapat dipakai umtuk bersatunya keluarga.

akibat-akibat perkawinan antar agama

Blood menemukan bahwa suatu jumlah yang cukup besar dari pasangan yang berbeda agama berpisah sebelum mereka memasuki jenjang pernikahan. Karena tingginya laju kegagalan diantara pasangan yang berbeda agam sebelum mereka menikah, maka mereka yang sampai memasuki perkawinan merupakan sesuatu kelompok terpilih yang yang mepunyai prospek yang lebih cerah. Walaupun demikian perkawinan orang-orang yang berbeda agan ini masih berbeda masih aka menghadapi masalah. Keberhasilan ataupun kegagalan dari perkawinan yang serupa ini biasanya dinilai berdasarkan banyaknya perpisahan ataupun penceraian dikalangan merek

  1. ANALISIS DAN DISKUSI
  1. Kami setuju bahwa sebuah perkawinan adalah suatu hubungan yang paling penting dari semua hubungan manusia dan juga suatu ujian yang paling berat mengenai penyesuaian seseorang. Tidak seorangpun harusnya memasuki jenjang perkawinan tanpa mempertimbangkan banyak hal yang turut serta bersama perkawinan itu.
  2. Kami sangat setuju ketika perkawinan itu di peruntukkan bagi orang-orang yang sudah matang baik dalam pikiran maupun fisiknya. Pikiran yang matang dan sikap yang sehat terhadap kehidupan dapat menghindarkan gangguan-gangguan yang serius dalam keluarga.
  3. Kami tidak setuju dengan sebuah perceraian dalam sebuah perkawinan karena perceraian bukanlah jalan yang bijaksana untuk sesuatu masalah hanya anak yang menjadi korban perceraian.
  4. Kami setuju bahwa suatu keluarga harus selalu dibina agar tidak terjadi perselisihan dalam suatu perkawinan baik antara suami istri maupun anak. Hal itu dikarenakan bahwa sebuah keluarga mempunyai ikatan yang erat antara satu kedua belah pihak.
  5. Kami sangat setuju bahwa seorang ayah merupakan pemimpin atau kepala keluarga yang harus di hargai dan di hormati, ia dapat menentukan aturan-aturan pada semua anggota keluarga guna menjaga ketertiban disiplin dan keharmonisan. Begitu pula dengan peran seorang Ibu dapat mengarahkan dan mendidik anak-anaknya serta memberikan kasih sayang yang penuh terhadap anak kandungnya.
  1. KESIMPULAN

1. Perkawinan adalah suatu hubungan yang paling penting dari semua hubungan antara manusia. Ia juga diberikan nama sebagai suatu ujian yang paling berat mengenai penyesuaian diri seorang.

2. Pengertian keluarga adalah kelompok pertama tempat anak-anak melakukan kontak. Dalam keluargalah senyum pertama diperlihatkan. Anak itu mengenal ibunya, dan tersenyum yang tidak dapat dilakukan oleh hewan manapun juga. Didalam keluargalah kesadaran kemanusiaa si anak terbentuk. Anggota keluarga lainnya seperti ayah, ibu, abang, kakak, teman, tetangga, kakek dan nenek dan sebagainya kesemuanya di temukan atas dasar keluarga.

3.Macam-macam Perkawinan dalam Keluarga, yaitu :

  1. Perkwinan Campuran
  2. Perkawinan antar agama
  3. Perkawinan dalam umur

DAFTAR RUJUKAN

  1. 1. Drs.RozyMunir, Pendidikan Kependudukan: penerbit Bumi Aksara,1985   

  1. William J.Goode,Sosiologi Keluarga: penerbit Bumi Aksara,Jakarta,2007
  1. Widagdho Djoko.Pengantar Sosiologi. Bumi Aksara : Jakarta. 2003.
  1. Gandhi Mahatma, Kaum Perempuan dan Ketidaksamaan Sosial.Penerbit Pustaka Pelajar: Yogyakarta,2002.
  1. http://organisasi.org/arti-definisi-pengertian-perkawinan-pernikahan-dan-dasar-tujuan-nikah-kawin-manusia sabtu, 13 maret jam 09.06 wib
  1. http://id.shvoong.com/books/1692841-definisi-perkawinan/ sabtu, 13 maret jam 09.06 wib

[1] Drs.Rozy Munir, Pendidikan Kependudukan: penerbit  Bumi Aksara,1985 hal. 97

[2] Ibid hal 98

[3] Ibid hal 100

[5] William J.Goode,Sosiologi Keluarga.Jakarta.2007 hal. 5

[6] Ibid hal 41

[7] Ibid hal 137

About Weblog of Feriska Listrianti

Mahasiswi UIN Maliki Malang Fakultas Tarbiyah
This entry was posted in Perkawinan. Bookmark the permalink.

2 Responses to Perkawinan dan Keluarga

  1. yulia says:

    belum dipotong jadi summary?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s