Pendidikan Seumur Hidup dalam Pembelajaran

BAB I

INTRODUCE

 

1.1  Latar Belakang

Puji syukur alhamdulillah kami ucapkan kehadirat Allah SWT, yang atas ridhoNya kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul “Konsep Pendidikan Seumur Hidup” tepat pada waktunya. Makalah ini disusun sebagai persyaratan tugas mata kuliah Program DASAR-DASAR PENDIDIKAN.

Pentingnya mengetahui dan mempelajari konsep pendidikan seumur hidup akan memungkinkan seorang mengembangkan potensinya sesuai dengan kehidupannya. Pada dasarnya semua manusia dilahirkan ke dunia mempunyai hak yang sama, khususnya hak untuk mendapatkan pendidikan dan peningkatan pengetahuan serta keterampilannya (skill).

Isi makalah ini antara lain adalah pengertian pendidikan seumur hidup, landasan pendidikan seumur hidup. Pendidikan merupakan cara paling efektif untuk keluar dari suatu lingkaran yang menyerat kepada kebodohan dan kemelaratan. Pendidikan seumur hidup dalam konteks ini memungkinkan seseorang untuk meningkatkan produktivitasnya, memelihara dan mengembangkan sumber-sumber yang dimiliki serta merupakan alat untuk mengembangkan individu-individu yang akan belajar seumur hidup agar lebih bernilai bagi masyarakat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1.2  Rumusan Masalah

1.  Apakah pengertian pendidikan seumur hidup?

2.  Apakah landasan pendidikan seumur hidup?

3.  Apakah konsep dasar pendidikan seumur hidup?

 

1.3  Tujuan Pembahasan

1.  Agar mahasiswa dapat memahami pengertian lebih dalam tentang pendidikan seumur hidup.

2.  Agar mahasiswa dapat mengetahui tentang landasan pendidikan seumur hidup.

3.  Agar mahasiswa dapat mengerti tentang konsep dasar pendidikan seumur hidup.

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1  Pengertian Pendidikan

Pendidikan merupakan suatu proses berkelanjutan yang mengandung unsur-unsur pengajaran, latihan, bimbingan dan pimpinan dengan tumpuan khas kepada pemindahan berbagai ilmu, nilai agama dan budaya serta kemahiran yang berguna untuk diaplikasikan oleh individu (pengajar atau pendidik kepada individu yang memerlukan pendidikan itu).[1]

Justru, pendidikan itu merujuk kepada manusia sebagai objek utama dalam proses pendidikan. Dalam hal ini, berbagai definisi diberikan berhubung istilah pendidikan. Antara lain:

1.  Pandangan pakar pendidikan dari Amerika yaitu John Dewey berpandangan bahwa pendidikan ialah satu proses membentuk kecenderungan asas yang berupa akaliah dan perasaan terhadap alam dan manusia.(Lihat Abdul Halim el-Muhammady, Januari 1984. Pendidikan Islam Skop Dan Matlamatnya, Jurnal Pendidikan, Tahun 1, bil. 1, ABIM, Selangor, hlm. 10 dan lihat juga John Dewey, 1910. Democracy and Education, Mac Millan & Co., New York, hlm. 1-2).

2.  Prof. Horne, Beliau juga merupakan tokoh pendidik di Amerika. Beliau berpendapat bahwa pendidikan merupakan proses abadi bagi menyesuaikan perkembangan diri manusia yang merangkumi aspek jasmani, alam, akliah, kebebasan dan perasaan manusia terhadap Tuhan sebagaimana yang ternyata dalam akliah, persamaan dan kemauan manusia.(Lihat Hermen Harrel Horne, 1939. The Democratic Philoshophy of Education, Mac Millan & Co., New York, hlm. 6. lihat Juga Mook Soon Sang, 1988. pendidikan di Malaysia, Kumpulan Budiman, Kuala Lumpur, hlm. 414).

3.  Herbert Spencer, Beliau merupakan ahli falsafah Inggris (820 – 903 M). Beliau berpendapat bahwa pendidikan ialah mempersiapkan manusia supaya dapat hidup dengan kehidupan yang sempurna. Lihat Herbert Spencer, 1906. Education: Intelectual, Moral and Physical, William and Nongete, hlm. 84.

Berdasarkan definisi-definisi itu, dapat difahamkan bahwa pendidikan ialah proses melatih akaliah, jasmaniah dan moral manusia untuk melahirkan warga negara yang baik serta menuju ke arah kesempurnaan bagi mencapai tujuan hidup.

Hassan Langgulung juga merumuskan pengertian pendidikan itu sebagai menambah dan memindahkan nilai kebudayaan kepada individu dalam masyarakat. Proses pemindahan nilai budaya itu ialah, pertama, pemindahan nilai-nilai budaya melalui pengajaran. Ia boleh diartikan sebagai pemindahan pengetahuan atau knowledge. Jadi, kedua proses pendidikan merupakan satu latihan. Ia bermaksud apabila seseorang itu membiasakan diri dalam melakukan pekerjaan.

Pendidikan adalah lembaga dan usaha pembangunan bangsa dan watak bangsa. Pendidikan yang demikian mencakup ruang lingkup yang amat komprehensif, yakni pendidikan kemampuan mental pikir (rasio, intelek) kepribadian manusia seutuhnya. Untuk membina kepribadian, demikian jelas memerlukan rintangan waktu yang relatif panjang bahkan berlangsung seumur hidup.[2]

Adapun pengertian pendidikan seumur hidup bertujuan yakni:

1.  Mengembangkan potensi kepribadian manusia sesuai dengan urodat dan hakikatnya, yakni seluruh aspek pembawaannya seoptimal mungkin.

2.  Dengan mengingat proses pertumbuhan dan perkembangan kepribadian manusia bersifat hidup dan dinamis maka pendidikan sewajarnya berlangsung selama manusia hidup.[3]

Di dalam UU Nomor 2 Tahun 1989, Penegasan tentang pendidikan seumur hidup dikemukakan dalam pasal 10 ayat (1) yang berbunyi: “penyelenggaraan pendidikan dilaksanakan melalui dua jalur, yaitu jalur pendidikan sekolah dan jalur pendidikan luar sekolah. Jaur pendidikan luar sekolah dalam hal ini termasuk di dalamnya pendidikan keluarga. Sebagaimana dijelaskan pada ayat (4), yaitu: “pendidikan keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga dan yang memberikan keyakinan agama.[4]

A. Urgensi Pendidikan Seumur Hidup

Drs. H Fuad Ihsan (1996:44-45) dalam buku Dasar-dasar Kependidikan, menulis beberapa dasar pemikiran ditinjau dari beberapa aspek tentang urgensi pendidikan seumur hidup, antara lain:

1.  Aspek ideologis, setiap manusia yang dilahirkan ke dunia ini memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan, meningkatkan pengetahuan dan menambah keterampilannya. Pendidikan seumur hidup akan membuka jalan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi diri sesuai dengan kebutuhan hidupnya.[5]

2.  Aspek ekonomis, pendidikan merupakan cara yang paling efektif untuk dapat keluar dari “Lingkungan Setan Kemelaratan” akibat kebodohan. Pendidikan seumur hidup akan memberi peluang bagi seseorang untuk meningkatkan produktivitas, memelihara dan mengembangkan sumber-sumber yang dimilikinya, hidup di lingkungan yang menyenangkan-sehat dan memiliki motivasi dalam mendidik anak-anak secara tepat sehingga pendidikan keluarga menjadi penting.

3.  Aspek sosiologis, di negara berkembang banyak orang tua yang kurang menyadari pentingnya pendidikan sekolah bagi anak-anaknya, ada yang putus sekolah bahkan ada yang tidak sekolah sama sekali. Pendidikan seumur hidup bagi orang tua merupakan problem solving terhadap fenomena tersebut. Aspek politis, pendidikan kewarganegaraan perlu diberikan kepada seluruh rakyat untuk memahami fungsi pemerintah, DPR,MPR, dan lembaga-lembaga negara lainnya. Tugas pendidikan seumur hidup menjadikan seluruh rakyat menyadari pentingnya hak-hak pada negara demokrasi.

4.  Aspek teknologis, pendidikan seumur hidup sebagai alternatif bagi para sarjana, teknisi dan pemimpin di negara berkembang untuk memperbaharui pengetahuan dan keterampilan seperti dilakukan negara-negara maju. Aspek politis, dan pedagogis, sejalan dengan makin luas, dalam dan kompleksnya ilmu pengetahuan, tidak mungkin lagi dapat diajarkan seluruhnya di sekolah. Tugas pendidikan sekolah hanya mengajarkan kepada peserta didik tentang metode belajar, menanamkan motivasi yang kuat untuk terus-menerus belajar sepanjang hidup perlu diciptakan suasana yang kondusif.

 

2.2  Landasan Pendidikan Seumur Hidup

Konsepsi pendidikan seumur hidup (Lifelong education), mulai dimasyarakatkan melalui kebijaksanaan Negara (ketetapan MPR No. IV/MPR/1978, tentang GBHN), yang menetapkan prinsip-prinsip pembangunan nasional (pembangunan bangsa dan watak bangsa), antara lain: Arah pembangunan jangka panjang yaitu pembangunan nasional dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia.

Dalam Bab IV bagian pendidikan, GBHN menetapkan pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan didalam lingkungan rumah tangga, sekolah dan masyarakat. Karena itu pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah. Di samping dasar (landasan), yuridis konstitusional (kenegaraan : GBHN), pendidikan manusia seutuhnya ini sesuai pula dengan konsepsi atau teori kejiwaan manusia menurut teori kepribadian dan psikologi Gestalt.

Teori ilmu jiwa mengajarkan bahwa kepribadian manusia merupakan satu kebulatan antara potensi-potensi lahir batin bahkan juga jasmani dan penampilannya, antara lain seperti dikatakan oleh Garrett: in fact, their definition of personality not only includes an individual’s characteristic ways of conducting himself in everday situations but stresses as well such conditioning factors as physique, appearance, intelligence, aptitudes, and character traits. All these contribute, although in varying degree, to a person’s total vality that is, to the imprresoin whirch he makes on other people.[6]

Tidak ada istilah “tua” untuk belajar, never old to learn. Konsekuensi doa yang kita panjatkan harus sejalan dengan amaliyah nyata melalui kegiatan belajar yang terus-menerus. Nabi Muhammad SAW sekalipun telah mencapai puncak, masih tetap juga diperintahkan untuk selalu memohon (berdoa) sambil berusaha untuk mendapatkan ilmu pengetahuan (M Quraish Shihab, 199:178). Bukankah Allah ta’ala telah menyatakan: Dan orang-orang yang bertujuan di jalan Kami pastilah akan kami tunjukkan kepada mereka jalan Kami. (QS. Al-‘Ankabut, 29:69).

Dalam Islam, landasan pendidikan seumur hidup terdapat dalam ayat-ayat Al-Qur’an landasan pendidikan seumur hidup terdapat dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits Rasul, antara lain “Sesungguhnya dalam kejadian langit dan bumi, serta pertukaran malam dan siang, terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi mereka yang mempunyai (mempergunakan) akal”. (QS. Ali Imran: 190).[7]

Kesadaran akan pentingnya pendidikan seumur hidup menjadi mendalam dengan adanya sejumlah firman Allah SWT dan hadits Nabi Muhammad yang mendasarinya. Persoalannya tinggal bagaimana menjabarkan dan mengimplementasikannya.

 

 

2.3  Konsep Dasar Pendidikan Seumur Hidup

Pembahasan tentang konsep pendidikan seumur hidup ini akan diuraikan dalam dua bagian yaitu ditinjau dari dasar teoritis/religios dan dasar yuriditisnya.[8]

1.  Dasar Teoritis/Religious

Konsep pendidikan seumur hidup ini pada mulanya dikemukakan oleh filosof dan pendidik Amerika yang sangat terkenal yaitu John Dewey. Kemudian dipopulerkan oleh Peul Langrend melalui bukunya: An Introduction to Life Long Education. Menurut John Dewey, pendidikan itu menyatu dengan hidup. Oleh karena itu pendidikan terus berlangsung sepanjang hidup sehingga pendidikan itu tidak pernah berakhir. Konsep pendidikan yang tidak terbatas ini juga telah lama diajarkan oleh Islam, sebagaimana dinyatakan dalam Hadits Nabi Muhammad Saw. Yang berbunyi.[9]

Tuntutlah Ilmu sejak dari buaian sampai liang lahat.

2.  Dasar Yuridis

Konsep pendidikan seumur hidup di Indonesia mulai dimasyarakatkan melalui kebijakan negara yaitu melalui:

a.  Ketetapan MPR No. IV/MPR/1973 JO TAP. NO. IV/MPR/1978 tentang GBHN menetapkan prinsip-prinsip pembangunan nasional, antara lain:

-    Pembangunan nasional dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh rakyat Indonesia (Arah Pembangunan Jangka Pajang)

-    Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan dalam keluarga (rumah tangga), sekolah dan masyarakat. Karena itu, pendidikan adalah tanggungjawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah (Bab IV GBHN Bagian Pendidikan).

 

b.  UU No. 2 Tahun 1989 Pasal 4 sebagai berikut:

“Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”.

c.  Di dalam UU Nomor 2 Tahun 1989, penegasan tentang pendidikan seumur hidup, dikemukakan dalam Pasal 10 Ayat (1) yang berbunyi: “Penyelenggaraan pendidikan dilaksanakan melalui dua jalur, yaitu pendidikan luar sekolah dalam hal ini termasuk di dalamnya pendidikan keluarga, sebagaimana dijelaskan pada ayat (4), yaitu: “pendidikan keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga dan yang memberikan agama, nilai budaya, nilai moral dan keterampilan.

Sebenarnya ide pendidikan seumur hidup telah lama dalam sejarah pendidikan, tetapi baru populer sejak terbitnya buku Paul Langrend An Introduction to Life Long Education (sesudah Perang Dunia II). Kemudian diambil alih oleh International Commision on the Development of Education (UNESCO).

Istilah pendidikan seumur hidup (Life Long Integrated Education) tidak dapat diganti dengan istilah-istilah lain sebab isi dan luasnya (scope-nya) tidak persis sama, seperti istilah out of School education, continuing education, adult education, further education, recurrent education.

A. Implikasi Konsep Pendidikan Seumur Hidup pada Program-Program Pendidikan

1.  Pendidikan baca tulis fungsional

Realisasi baca tulis fungsional memuat dua hal, yaitu:

1.  Memberi kecakapan membaca, menulis, menghitung (3M) yang fungsional bagi anak didik.

2.  Menyediakan bahan-bahan bacaan yang diperlukan untuk mengembangkan lebih lanjut kecakapan yang telah dimilikinya.

3.  Pendidikan Vokasional. Pendidikan vokasional adalah program pendidikan di luar sekolah bagi anak di luar batas usia.[10]

4.  Pendidikan profesional

Pendidikan dalam upaya mencetak golongan profesional yang mampu mengikuti berbagai kemajuan dan perubahan yaitu:

1.  Pendidikan ke arah perubahan dan pembangunan

Pendidikan bagi anggota masyarakat dari berbagai golongan usia agar mereka mampu mengikuti perubahan sosial dan pembangunan.

2.  Pendidikan Kewarganegaraan dan Kedewasaan Politik

Pendidikan dalam upaya penguasaan pendidikan kewarganegaraan dan kedewasaan politik bagi setiap warga negara.

3.  Pendidikan kultural dan pengisian waktu senggang.

Pendidikan dalam upaya menciptakan masyarakat yang mampu memahami dan menghargai nilai-nilai agama, sejarah, kesusastraan, filsafat hidup, seni dan musik bangsa sendiri.

 

B. Beberapa Kepentingan Pendidikan Seumur Hidup

Hal yang mendasari perlunya pendidikan seumur hidup:[11]

1.  Pertimbangan ekonomi. Masih banyaknya masyarakat yang masih berada di bawah garis kemiskinan.

2.  Keadilan. Tuntutan akan adanya persamaan dan kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan.

3.  Faktor peranan keluarga

4.  Faktor perubahan peranan sosial

5.  Perubahan teknologi

6.  Faktor-faktor vocational

7.  Kebutuhan anak-anak awal

C. Strategi Pendidikan Seumur Hidup

Adapun strategi dalam rangka pendidikan seumur hidup sebagaimana diinventarisir Prof. Sulaiman Joesoef, meliputi:

1.  Konsep-Konsep Pendidikan Seumur Hidup[12]

1.  Konsep pendidikan seumur hidup itu sendiri. Sebagaimana suatu konsep, maka pendidikan seumur hidup diartikan sebagai tujuan atau ide formal untuk pengorganisasian dan penstrukturan pengalaman-pengalaman pendidikan.

2.  Konsep belajar seumur hidup. Dalam pendidikan seumur hidup berarti pelajar belajar karena respons terhadap keinginan yang didasari untuk belajar dan angan-angan pendidikan menyediakan kondisi-kondisi yang membantu belajar.

3.  Konsep Belajar Seumur Hidup. Belajar seumur hidup dimaksudkan orang-orang yang sadar tentang diri mereka sebagai pelajar seumur hidup, melihat belajar baru sebagai cara yang logis untuk mengatasi problema dan terdorong tinggi sekali untuk belajar di seluruh tingkat usia, dan menerima tantangan dan perubahan seumur hidup sebagai pemberi kesempatan untuk belajar baru.

4.  Kurikulum yang membantu pendidikan seumur hidup. Dalam konteks ini, kurikulum didesain atas dasar prinsip pendidikan seumur hidup betul-betul telah menghasilkan pelajaran seumur hidup yang secara berurutan melaksanakan belajar seumur hidup.

5.  Arah Pendidikan Seumur Hidup meliputi:

a.  Pendidikan seumur hidup kepada orang dewasa

Sebagai generasi penerus, para pemuda ataupun dewasa membutuhkan pendidikan seumur hidup dalam rangka pemenuhan sifat “Self Interest” yang merupakan tuntunan hidup sepanjang masa. Diantaranya adalah kebutuhan akan baca tulis bagi mereka pada umumnya dan latihan keterampilan bagi pekerja.

b.  Pendidikan seumur hidup bagi anak

Pendidikan seumur hidup bagi anak, merupakan sisi lain yang perlu memperoleh perhatian dan pemenuhan oleh karena anak akan menjadi “tempat awal” bagi orang dewasa artinya dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Pengetahuan dan kemampuan anak, memberi peluang besar bagi pembangunan pada masa dewasa. Dan pada gilirannya masa dewasanya menanggung beban hidup yang lebih tinggi.

 

BAB III

PENUTUP

3.1  Kesimpulan

Dari pembahasan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1.  Pendidikan merupakan suatu proses berkelanjutan yang mengandung unsur-unsur pengajaran, latihan, bimbingan dan pimpinan dengan tumpuan khas kepada pemindahan berbagai ilmu nilai agama dan budaya serta kemahiran. Pendidikan seumur hidup berkewajiban menanamkan kesadaran penghayatan untuk mampu mengamalkan dan melestarikan tata nilai yang dimaksud.

2.  Konsep pendidikan seumur hidup erat kaitannya dengan paham tentang waktu berlangsungnya pendidikan yang dilaksanakan.

3.  Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan dalam kehidupan keluarga, sekolah dan masyarakat.

 

DAFTAR PUSTAKA

Hasbullah, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003.

 

Mudyahardjo, Redja. Pengaturan Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001.

 

Sabri, Alisu Drs. H.M. Ilmu Pendidikan. Jakarta : CV. Pedoman Ilmu Jaya, 1999.

 

 

Tholib Hasan, Pendidikan Seumur Hidup (Dasar-Dasar Kependidikan). Jakarta: Studio Press, 2009.

 

Tim Dosen FKIP IKIP Malang, Pengantar Dasar-Dasar Kependidikan, Usaha Nasional, Surabaya, 1988.

 

 

Internet:

 

http://my-opera.com/arjuna-kabel/blog/2008/01/04/pendidikan-seumur-hidup, (Jum’at 11 Desember 2009. jam 11.30 WIB).

 

www.google.co.id//pendidikan-seumur-hidup.html.

(Jum’at, 11 Desember 2009 Jam 11.30 WIB).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[2] Tholib Kasan, Pendidikan Seumur Hidup, Jakarta,Studio Press 2009 hal.

[3] Tim Dosen FKIP IKIP Malang, Pengantar Dasar-Dasar Kependidikan, Usaha Nasional, Surabaya, 1988. hal. 139 – 140.

[4] Hasbullah. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan Seumur Hidup. PT. Raja Grafindo Persada Jakarta, 2009, hal. 66.

[6] Tholib Hasan, Pendidikan Seumur Hidup (Dasar-Dasar Kependidikan), Jakarta, Studio Press. 2009 hal. 59.

[7] www.google.co.id//pendidikan-seumur-hidup-html Jum’at, 11 Desember 2009 Jam 11.30 WIB

[8] Ibid, hal. 70

[9] Ibid, hal. 64

[10] Hasubllah, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada, 2003 hal 41

[11] Mudyahardjo, Redja, Pengantar Pendidikan. Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada, 2001.hal 110

[12] Sabri Alisu Drs. H.M. Ilmu Pendidikan. Jakarta CV. Pedoman Ilmu Jaya. 1999.

About Weblog of Feriska Listrianti

Mahasiswi UIN Maliki Malang Fakultas Tarbiyah
This entry was posted in Pendidikan and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s